About

Foto Saya
Dompu, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Menginisiasi hadirnya sebuah komunitas yang memiliki sense terhadap soal soal sosial, budaya dan politik disekeliling kita...

Guru To,i

Guru To,i Adalah term yang hidup dan berkembang dengan zaman dan sejarah, di kabupaten Dompu Guru To,i selalu dilabelkan dengan sang alim yang kerap mendistribusi wawasan keagamaan dan kebudayaanya, guru To,i adalah Label bagi Pendakwah agama berbasis kekuatan budaya yang arif.. mengedepankan spirit nilai kearifan Islam. Sebagaimana Spirit historis dan filosofisnya, seluruh ide dan gagasan di halaman ini, diharapkan berkontribusi imbang bagi berkembangnya Dompu dimasa datang sekaligus tetap dilekatkan dengan spirit Budaya, Sosial dan politik yang menghormati Kemanusiaan, Sejarah dan Filosofi Dou Dompu sendiri.. tentu yang syarat dengan Semangat NGGUSU WARU, Kebersamaan, Persaudaraan, Serta Mencintai Yang ter-rugikan... Semoga

Ka kura di nuntu, Ka niki di rawi {speech less, do more}

disebuah kesempatan, tiba tiba anak muda yang kuliah dipulau jawa, menyampaikan complain, bang, kenapa ya sebagian masayrakat kita, lebih dominan mau di dengar dari pada mau mendengar..? begitu pula mereka lebih suka memerintah dari pada diperintah..? dan yang lebih parah lagi sebagian dari mereka lebih suka menonton dari pada melakukanya,,? Serta masih banyak deretan pertanyaan yang mencirikan sebagai kerisauanya terhadap Dompunya..!

pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan serius ungkap saya pada anak muda tadi, ini hanya kulit yang anda lihat, tapi sikap sikap tersebut adalah manifestasi dari sebuah mandegnya sumberdaya manusia kita, terus saya harus risau donk bang..? katanya lagi,, saya jawab “kalau anda peduli dengan daerah Dompu, wajar untuk risau dan gelisah sekalian” kalau nggak justru saya pertanyakan keilmuan anda yg sudah menghabiskan biaya, materi dan waktu anda dan keluarga..

setelah direnung renung dan diperhatikan kembali complain anak muda tadi, cukup masuk akal, bahwa sikap sikap tersebut sesungguhnya terbangun dari cara berpikir yang terbatas, bukankah mau didengar adalah warisan feudalism yang selalu kepingin dihargai pandanganya, walau yang di ocehpun belum tentu benar dan layak didengar, akan tetapi pokoknya pingin didengar, karena pernyataan dan pandangannya selalu diharap menjadi panutan dan ikutan.

Begitu pula soal selalu ingin diposisi memerintah (menyuruh), lagi lagi sikap ini adalah sikap jumud yang sudah terbantah oleh subtansi demokrasi yang kita jalani baik secara formal maupun spiritnya dewasa ini, kok masih ada juga yang otoritarian dalam posisinya sebagai pribadi, nah begitu super powernya pribadi yang sperti ini, karena semua tittahnya kebenaran yang harus dilangsungkan.

Sikap menonton dan tidak melakukanya, ini juga merupakan manifestasi dari sistim berpikir yang tidak mengenal dirinya, bukankah manusia yang satu dengan yang lainya adalah mahluk social, satu sama lainya saling membutuhkan dan butuh tolong menolong, sikap ini juga adalah akibat ketidak mampuan mengenal diri dan lingkungan hidupnya.
  
Sesungguhnya sikap sikap tadi adalah bentuk yang jelas, atas rendahnya krisis kepercayaan diri, orang orang yang menunjukan sikap lemah tersebut, dan sepertinya perlu dikasihani, dalam bahasa lsm perlu di advokasi, dalam bahasa medis sakit dan perlu diobati, dalam bahasa tehnik bangunan hampir amburk dan perlu perombakan, dan masih banyak istilah istilah lainya yang bisa disematkan, karena pribadi pribadi ini adalah pribadi yang superior, jumud, feudal dan juga sebagai penghambat perkembangan dan kemajuan sebuah daerah, terutama daerah Dompu.

Oleh karenanya perlu dilakukan upaya upaya rekontruksi budaya yang destruktif tersebut, karena dominan perintah, bicara dan omong doangk, tidak akan memberikan ruang alternative pikir, kerja dan pendapat bagi yang lain, padahal bukankah keberagaman pendapat, cara kerja dan masukan atas sebuah peristiwa dan lain lain, akan memperkaya sebuah objek perintah, pendapat atau cara bekerja yang lebih baik, dan yang terpenting adalah bagaimana upaya Sikap dan prilaku tadi merujuk kepada “mboto nuntu, karawi sto,i” (= No Action Talk Only), sehingga perlu disandingkan dengan istilah atau adegium penting untuk melakukan rekontruksi budaya mapan tersebut, yaitu “Ka Kura di Nuntu, Ka Niki di Rawi” (= Speech Less, Do More)


Edempra maita “ka Kura di Nuntu, Ka Niki Di Rawi, Ru,u ba Dana Dompu…!

“Stop Kekerasan Di Dana Dompu”

Pers Release “Komunitas” Guru Toi Centre (GTC) - Dompu
konflik kandai-renda di Dompu, bukan sesuatu yang muncul dengan
sendirinya, akan tetapi ada juga pemicu yang secara praktis bahkan
startegis, oleh karena itu forum mbolo weki juga merekomendasikan
bahwa, konflik renda-kandai adalah konflik laten apabila dilihat dari
sisi historinya tercatat mengalami keterulangan selama 4 kali dalam 10
tahun terakhir, oleh karenya manifestasi konflik konflik tersebut bisa
berupa perang antaar kampong, kontestasi tidak sehat dalam even even
masyrakat, bangunan psikologi yang mengkonstruk cara pandang terhadap
kelompok lain yang cendrung stigmatisasi, serta masih banyak bentuk
bentuk konflik yang dilihat maupun tidak, nah adapun soal peperangan
antar kampong yang terjadi saat ini, lebih pada penegasan adanya
konflik di renda-kandai.
dampak apa saja yang ditimbulkan atas adanya konflik yang
termanifestasikan dalam bentuk peperangan kampong kandai-renda. Secara
social, berujung pada terhambatnya proses pendidikan anak hingga orang
dewasa disekitar kampong tersebut, begitu pula adanya kekerasan
psikologi yang dihadapi anak dan perempuan dalam menjalani kegiatan
pendidikan formal maupun tidak, disisi lain juga kesenjangan yang
semakin berjarak antar dua kampong, adapaun disisi ekonomi, banyaknya
pedagang kecil maupun berskala menengah tidak dapat melangsungkan
aktifitas ekonomi, transportasi sedikit terhambat, adapaun disisi
politik, memperuncing ketidak selarasan relasi anatar kelompok
dilingkup masyrakat, sehinggaa menimbulkan cara pandang yang stigmatis
terhadap kelompok lainya, disisi budaya terbangunya budaya baru yang
lebih mengadopsi patritotisme yang salah tempat, tidak adanya tokoh
panutan yang merepresentasikan kepentingan bersama serta munculnya
kelompok interest dilapangan yang mengatas namakan sebagai pahlawan
akan tetapi memiliki interest jangka pendek.
Dari sekian banyak dampak yang ada, paling tidak akibat adanya konflik
tersebut masyrakat dua kelompok, baik kandai-renda mengalami kerugian
material maupun inmaterial, begitu pula kedua kelompompok dalam
ssituasi sebagai korban jiwa maupun psikologi, dan secara umum
kesenjangan relasi social politik semakin berjarak, maka sekali lagi
yang menajdi korban dalam kontek konflik renda-kandai adalah
Masyarakat kandai-renda secara khusus dan masyrakat Dompu secara umum.
Oleh karenya Komunitas Guru Toi Centre berdasar uraian dan analisis
anatomi konflik yang mengurai sejarah konflik kandai-renda, kronologi
kejadian, dampak yang ditimbulkan serta mengurai peran para pihak pra
dan pasca kejadian, Merekomendasikan berkeseimpulan dan permintaan
kepada para pihak ;
1.Konflik berkekejekrasan adalah imbas dari relasi ekonomi politik
yang tidak imbang, oleh karenanya konflik antar kampong renda-kandai
hanya akibat terdekat dari akibat adanya kesenjangan ekonomi politik
antar kampong yang ada, maka pendektan penyelesaianya harus membongkar akar pemrasahalanya yaitu, soal pemenuhan Hak hak pendidikan yang llayak serta pemenuhan hak hak kesempatan kerja diwilayah konflik yang ada.
2.Konflik berkekerasan antar kampong kandai-renda juga dampak atas
adanya interest kelompok kelompok menengah yang berkontestasi untuk
mengisi ruang ruang politik dan jabatan dilingkup pemerintahan, oleh
karenanya, lingkup penguasa dan pemeritahan harus memenuhi rasa
keadilan keseimbangan jabatan politik yang ada.
Disisi lain Komunitas Guru Toi Centre juga meminta kepada para pihak
untuk mengambil peran peran konstruktif secara mendesak dan jangka
panjang agar penanganan konflik kandai-renda tidak berlaru larut dan
tidak terbaikan, karena dikhawatirkan akan mengakar dan berdampak
luas, adapun beberapa rekomendasi tersebut adalah;
1.Meminta kepada seluruh masyarakat dompu dan pemerintah agar terus
menerus melakukan upaya perdamaian kedua kampong yang bertikai, dengan
berupaya melakukan kampanye penyadaran dari berbagai perspektif baik budaya, social, ekonomi dan politik.
2.Meminta kepada pemerintah baik Bupati dan DPRD secara kelembagaan
melakukan pendekatan secara persuasive agar upay upaya perdamaian tidak hanya dilakukan sebagai upaya meredam, akan tetapi juga mengambil peran peran pencegahan konflik yang berulang ulang, denganmenangangi soal soal mendasar di kedua kampugn tersebut, yaitu kesenjangan ekonomi politik, pemenuhan hak hak pendidikan serta
pemenuhan hak hak kesempatan kerja.
3.Menyerukan kepada para pihak yang berkonflik agar kembali menggalang persatuan dan kebersamaan dalam menggapi Dompu yang Baik dan Maju, karena musuh kita bukan saudara sesame manusia, akan tetapi musuh bersama masyrakat Dompu adalah “Kemiskinan, Kebodohan, Ketidakadilan serta keterbelakangan”
4.Meminta kepada Para pihak baik masyarakat, pemerintah, profesi,
aktifis agar ikut serta menangani korban korban material, fisik maupun
psikologi secara intens, sehingga mencegah berlanjutnya konflik
konflik yang ada.
5.Meminta Pihak Keamanan agar bertindak sesuai dengan kerangka Hukum dan Menjamin keamanan ditengah tengah masyarakat, ditengah situasi yang sudah sangat memprihatinkan dan diminta ada jaminan tidak adanya korban lagi, jikalau tidak KAPOLRES Dompu Diminta MUNDUR dari jabatanya, dan meminta kepada KAPOLDA dan KAPOLRI untuk melakukan proses penggantian KAPOLRES Dompu secepatnya, agar terjaminya penegakan Hukum dan Jaminan Rasa Aman bagi masyarakat kedua kampung yang bertikai pada khususnya dan masyrakaat Dompu pada Umumnya.
6.Komunitas Guru Toi akan melakukan Kampanye Perdamaian, akan
mengajak banyak pihak untuk peduli pada perdamaian saudara kita yang
bertikai, karena perdamaian dan anti kekerasan adalah identitas DOU
DOMPU Ma NGGUSU WARU, serta buah pembelajaran bagi yang lain, bahwa konflik berkekerasan dan perang antar kampong semata semataa hanya merugikan diri sendiri serta mengabaikan kebersamaan yang dimiliki bersama.

Dompu, 25 Mei 2014
Akhdiansyah, S.Hi
(Inisiator Komunitas Guru Toi Centre)

Pulang, Tidak Harus Jadi Bupati

Beberapa kali deringan telpon seorang mahasiswa disebuah kampus kecil didompu, diseberang sana terdebgar ucapan "bune haba re..?" Dijawab dengan santun "iyota dae, baik2 selalu".. "Insya allah minggu depan saya kedompu ya, tolong semuanya diatur adinda" begitu dialog selanjutnya antara mahasiswa dengan tokoh sebelah sana...!

Sembari menutup telponnya, mahasiswa yg dikenal aktifis tersebut menceritakan bahwa "bos na mai ka" dalam waktu tidak lama lagi salah seorng pengusaha sekaligus akademisi kelahiran dompu yg beraktifitas dijakarta itu akan pulang dan nyambangi kampungnya..! Ada kalimat "tolong semuanya diatur adinda" yang sangat memiliki muatan pesan yang mendalam akan kunjungan kali ini.

Singkat cerita, usut punya usut bahwa dialog tadi menceritakan bahwa, ada tokoh asal dompu yang menetap diluar daerah, akan pulang kampung untuk menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dikampungnya,, apalagi kalau bukan mencalonkan diri sebagai bupati Dompu periode selanjutnya,. Sebuah niat yang mulia dan baik utk perkembangan daerah.

Setelah dilist dan dinvetarisir bahkan informasi banyak sumber, tokoh Dompu yang ada di ibukota propinsi maupun ibukota negara bahkan banyak tempat tempat lainya, sangat produktif, penuh qualitas serta tak jarang berhasil mendapat kepercayaan sebagai wakil rakyat maupun pemimpin ditempat tempat rantauan tersebut.. Tentu sumberdaya sumberdaya manusia yang mumpuni yang dimiliki dompu diluar sana, sangat potensial utk pembangunan Dompu dimasa datang..

Tapi pertanyaanya, apakah Melulu Pulang Kampung itu harus jadi BUPATI atau DPRD Dulu,,,? Mengapa tidak mengambil peran2 produktif seperti kapasitas dan bidang masing2.. Yang akademisi gagaslah ide dompu ini dengan inovasi pendidikan yg cerdaskan dou dompu, yang peternakan berikan sumbngsih rekayasa peternakan produktif, yg pengusaha,, gagaslah investasi berkelanjutan dan berpihak kepntingan masyrkat kecil didompu, serta masih bnyak peran2 lainya yg konstruktif..

Maka Pulang kampung, tidak selalu bermakna jadi Bupati atau DPRD,,, karena Bupati dan wakil bupati hanya 1 Kursi, begitu pula anggota parlemenet anggotanya terbatas,,
Karena walau dalam jabatan bupati atau DPRD pun, sudah barang tentu terjemahan dompu sebagai daerah kelahiran dengan perkembangan kekinian sangat jauh berbeda, begitu pula pemahaman tentang dompu tentu tidak cukup informasix via facebook, telpon2an, koran atau media lain,, tanpa menetap dan merasakan langsung kondisi yang ada..

Jikalau tidak dalam posisi itupun harusnya setiap orang2 dompu yang diluar sana, memikirkan perkembangan dan kemajuan tanah kelahiranya dalam bentuk yang lain.. Untuk bisa demikian tentunya, para perantau dan orang2 berhasil diluar sana, atau adik2 yang memiliki obsesi utk kemajuan daerahnya., Mari Pulanglah ke Dompu dan bangun daerah kita, tentu tanpa jaminan untuk jadi Bupati, Wakil Bupati atau DPRD, Bisakah...?

Batu Lata dan Think That, Unthinkable

Membuka lembaran catatan kaki seorang pemikir pembaharu islam Ali engginer, tertuang sebuah ungkapan menarik, “memikirkan yg tidak terpikir”, terlintas pertanyaan bagaimana caranya ya.. semakin dalam membaca dan mengurai ditemukan juga kata kunci yang berupa azimat dari sepenggal kata memikirkan sesuatu yang tidak terpikir oleh orang orang diluar sana.

Terinpirasi dari ungkapan tersebut, diskusi dan sharing gagasan pun terjadi, lalu lahirlah istilah “how to think that unthinkable…?” yang menurut hemat peserta diskusi maqomnya lebih tinggi, dari hanya sekedar memikirkan yg tidak terpikir menjadi sesuatu yang rumit untuk dipikir bahkan sama sekali tidak terbayang dalam pikiran sekian banyak yg belum terpikirkan.

Dua leveling cara berpikir tersebut, jikalau berkehendak maju dan berkembang, cukup layak untuk dipraktikan oleh masyrakat Dompu, bagaimana tidak budaya latah (batu lata), kerap menjadi idiom konstruk berpikir dan tindak masyrakat Dompu, terutama disisi social dan ekonomi, sebagai contoh misalnya, disisi ekonomi masyarakat Dompu selalu saja latah dengan berkembangnya sebuah usaha kecil tetangga atau kawan sebelah, begitu pula disisi social ketika trend baru berkembang selalu saja dikonsumsi secara mentah dan dan diadopsi.

Batu Lata (Meniru), adalah sebuah budaya yang dikonstruk dari ketidak mampuan berpikir yang tidak terpikirkan, kretifitas adalah produk dari berpikir yang tidak terpikirkan, batu lata sangat gampang diditemui diruang ruang ekonomi, social dan politik didaerah Dompu, tingkatan budaya batu lata juga terjadi di ruang ruang masyrakat, Negara atau swasta, imbas dari budaya batu lata tentu berdampak stagnannya perkembangan sumberdaya manusia maupun pembangunan secara umum di dana Dompu.

Sangat mudah ditemui ketika sebagian orang membuka bisnis warnet, maka menjamurlah warnet di dompu, seorang tetangga membuka usaha counter pulsa yang lain pun ikut ikutan dengan pola yang sama, disisi lain diruang social ketika sebuah komunitas menggalang gerakan protes yang lainya apingin tampil dengan gaya protes yang sama, diruang politik style style politik yang dilakukan masih sangat normative dan kaku, lawan adalah musuh, teman adalah mitra bak sang malaikat yg luput dari intrik dan tipu tipu.

Budaya Batu Lata saat ini dioraktekan secara serampangan oleh kalangan masyrakat menengah di Dompu, budaya ini pun mengkonstruk kemalasan untuk berkretifitas dan malas dalam mengolah ruang dan situasi, sehingga pola dan caranya pun “membosankan” bahkan cendrung stagnan, tentu akibat Batu Lata semuanya bisa terukur, ya ketika musim usaha warnet mulai lesu rame rame memikirkan usaha lain, begitu pula bisnis pulsa mengalami banyak kompotitor maka akan berpindah pada bisnis baru yang belum tentu strategis, begitu pula pola pola komunikasi social yg sudah usang banyak mengalami kecaman dan ketauan juntrungnya, maka mulai lha menuju tangga tangga taktis yang lebih operasional dan Vulgar.

Batu Lata disatu sisi memang memiliki dampak positif, yaitu kemauan untuk terus maju dan dinamis dalam menghadapi ruang ruang ekonomi, social dan politik, akan tetapi budaya ini juga banyak dampak negatifnya, katakana saja konstruk lebih dominan mendorong pada kemalasan untuk berkretifitas, merasa mapan dan berkecendrungan lebih suka meniru dengan pola dan gaya yang sama tanpa malu malu, dan yang lebih parah hasil tiruan tersebut dikutip sebagai produk sendiri.

Oleh karenanya, how to think dan unthinkable..? adalah sebuah tawaran bagi masyrakat menengah keatas membangun budaya berpikir dan berbuat secara kreatif dengan tanpa benyak meniru, akan tetapi mengelaborasi kondisi kondisi ekonomi, social, politik secara inovatif, tentu bukan hanya dengan ikut ikutan dan latah atau BATU LATA..!

"Sarato,i Kampo"

Rebutan mix dan megaphone untuk mendapatkan giliran orasi ketika demontrasi, dipertontokan secara terbuka oleh team demonstrasi mahasiswa Dompu diperempatan BI Mataram, mengucapakan kata tidak senonoh oleh kalangan DPRD Dompu diruang rapat paripurna, melayangkan bogem mentah kemuka lawan tanding oleh angora legislative diruang bupati, saling hujat diruang public dilakukan oleh kalangan elite, menikmati hidup hedonism atas hasil tipu tipu, serta berlagak jagoan ketika perang kampong, bahkan yang terbaru berharap melerai ribut ribut disaat emosi sebagian masyrakat memuncak,serta masih banyak lagi sikap dan perkataan yang mencirikan prilaku kekanak kanakan.

Prilaku prilaku tersebut sangat mudah ditemukan dikalangan masyrakat Dompu, baik itu yang berada di dana Dompu, mataram, jawa dan ibukota Jakarta, sebagian besar, disisi lain ketika prilaku kenak kanakan tersebut ditampilkan sebagai view, bisa dilakukan secara sadar atau tidak sadar, dapat ditemukan dipergaulan keseharian, tidak susah dijumpai diruang ruang dunia maya atas statement, bgitu pula kerap diceritakan oleh media media massa, bahkan terakhir pemda yang diduga melakukan pinjaman duit pada rakyatnya sendiri mencapai angka 6 Miliard. Dan anehnya prilaku tersebut oleh sebagian pelaku dan penganutnya, bahkan disimpan dalam klausal “membanggakan”.   

Melirik fenomena diatas, maka Satu lagi character yang melekat disebagian kecil kalangan dana Dompu, penikmat character ini tidak banyak, akan tetapi cukup komprehensif mengisi ruang ruang social politik dou dompu, dampak dari character tersebut cukup berimbas atas cara bersikap dan menyikapi sebuah persoalan, sehingga tak heran prilaku dan perkataanya layak disamakan dengan kenak kanakan dan kampungan atau yang kita sebut dengan “Sara toi kampo”.

Saratoi kampo, adalah carater yang melekat atas “arogansi” diri menilai orang lain, dan juga over confident atas kemampuan dirinya, maka penganut carater ini, cendrung merasa dirinya paling benar dan yang lain sedikit benarnya, maka dengan demikian “saratoi kampo” layak di sematkan pada mereka mereka yang merasa benar dan bangga atas kebenaran yang diciptakanya sendiri, karena para penganut character ini adalah menikmati kesenangan tersendiri dan mengabaikan kebersamaan, sehingga ketika menghadapi sesuatu diluar keinginanya, maka cendrung mengabaikan yang lainya,, maka kerap muncul keluhan dibibirnya,, Co,opra, dokaimpra, ciru (Biarlah…) dan banyak ungkapan ungkapan kekecewaan lain yang diungkapnya.

Prilaku lain dari carater saratoi kampo adalah kerap merasa menang sendiri, akibat dari menikmati kemapanan beripkir, jabatan dan posisi yang dihadapi dimasa lalu dan saat ini, dan ahirnya cendrung berkesimpulan secara feudal atau yang lain tidak ada apa apanya yang dia miliki benar sebenarnya, sebagai contoh prilaku ini yaitu, wacana langit yang tidk membumi atau sama persis orang yang memaksakan “imajinasinya” dengan fakta yang berkembang dilapangan, maka tak heran konklusi dan sikapnya kebanyakan kontras dengan realitas dan hanya sebagian kecil benar dengan kenyataan, dan yang meyedihkan prilaku menganggap diri benar, hebat, pintar dan mengabaikan yang lainya akan berakibat feodal, arogan bahkan sok pintar kerap diperankan oleh para penikmat “Saratoi Kampo”

Menengok dari cara bersikap, pikir dan tindak saratoi kampo tersebut, Nampak jelas bahwa carater ini sebenarnya berkontribusi pada rendahnya, terpeliharanya konflik, terbangunya kebodohan atau bahkan tersimpulkan keputusan yang salah, maka jikalau saja carater saratoi kampo, dianut oleh elite menengah keatas (walaupun benar adanya prilaku ini dianut oleh elite menengah Dou Dompu dimanapun berada, diposisi apapun mereka menjabat, dikelas apapun mereka dikategorikan), maka Dompu pasti tidak akan bsia bergeser mengalami kemajuan yang sigifikans, karena para penikmat character saratoi kampo masih mengisi ruang social, politik dan budaya Dou Dompu.

Mengingat fenomena diatas kerap dan sangat gampang dijumpai, disetiap kalangan Dompu, sekali lagi, bukan hanaya di Dompu, tapi juga dimanapun dou dompu, prilaku dan carater ini kadang melekat secara kuat pada sebagian kecil Dou Dompu, baik aktivis, pejabat, anggota dprd, tokoh masyrakat,actor politik, bupati dan wakil bahkan bupati atau mantan bupati sekalipun, bisa dan mungkin terjangkiti carater “Saratoi Kampo”, yang sebenarnya lebih layak disematkan kepada “Prilaku anak anak” dan “Kampungan”.. miris..!

Nah adakah diantara kita sebagai penikmat dana penganut “Saratoi Kampo”…?

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More