About

Foto Saya
Dompu, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Menginisiasi hadirnya sebuah komunitas yang memiliki sense terhadap soal soal sosial, budaya dan politik disekeliling kita...

Guru To,i

Guru To,i Adalah term yang hidup dan berkembang dengan zaman dan sejarah, di kabupaten Dompu Guru To,i selalu dilabelkan dengan sang alim yang kerap mendistribusi wawasan keagamaan dan kebudayaanya, guru To,i adalah Label bagi Pendakwah agama berbasis kekuatan budaya yang arif.. mengedepankan spirit nilai kearifan Islam. Sebagaimana Spirit historis dan filosofisnya, seluruh ide dan gagasan di halaman ini, diharapkan berkontribusi imbang bagi berkembangnya Dompu dimasa datang sekaligus tetap dilekatkan dengan spirit Budaya, Sosial dan politik yang menghormati Kemanusiaan, Sejarah dan Filosofi Dou Dompu sendiri.. tentu yang syarat dengan Semangat NGGUSU WARU, Kebersamaan, Persaudaraan, Serta Mencintai Yang ter-rugikan... Semoga

Pulang, Tidak Harus Jadi Bupati

Beberapa kali deringan telpon seorang mahasiswa disebuah kampus kecil didompu, diseberang sana terdebgar ucapan "bune haba re..?" Dijawab dengan santun "iyota dae, baik2 selalu".. "Insya allah minggu depan saya kedompu ya, tolong semuanya diatur adinda" begitu dialog selanjutnya antara mahasiswa dengan tokoh sebelah sana...!

Sembari menutup telponnya, mahasiswa yg dikenal aktifis tersebut menceritakan bahwa "bos na mai ka" dalam waktu tidak lama lagi salah seorng pengusaha sekaligus akademisi kelahiran dompu yg beraktifitas dijakarta itu akan pulang dan nyambangi kampungnya..! Ada kalimat "tolong semuanya diatur adinda" yang sangat memiliki muatan pesan yang mendalam akan kunjungan kali ini.

Singkat cerita, usut punya usut bahwa dialog tadi menceritakan bahwa, ada tokoh asal dompu yang menetap diluar daerah, akan pulang kampung untuk menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dikampungnya,, apalagi kalau bukan mencalonkan diri sebagai bupati Dompu periode selanjutnya,. Sebuah niat yang mulia dan baik utk perkembangan daerah.

Setelah dilist dan dinvetarisir bahkan informasi banyak sumber, tokoh Dompu yang ada di ibukota propinsi maupun ibukota negara bahkan banyak tempat tempat lainya, sangat produktif, penuh qualitas serta tak jarang berhasil mendapat kepercayaan sebagai wakil rakyat maupun pemimpin ditempat tempat rantauan tersebut.. Tentu sumberdaya sumberdaya manusia yang mumpuni yang dimiliki dompu diluar sana, sangat potensial utk pembangunan Dompu dimasa datang..

Tapi pertanyaanya, apakah Melulu Pulang Kampung itu harus jadi BUPATI atau DPRD Dulu,,,? Mengapa tidak mengambil peran2 produktif seperti kapasitas dan bidang masing2.. Yang akademisi gagaslah ide dompu ini dengan inovasi pendidikan yg cerdaskan dou dompu, yang peternakan berikan sumbngsih rekayasa peternakan produktif, yg pengusaha,, gagaslah investasi berkelanjutan dan berpihak kepntingan masyrkat kecil didompu, serta masih bnyak peran2 lainya yg konstruktif..

Maka Pulang kampung, tidak selalu bermakna jadi Bupati atau DPRD,,, karena Bupati dan wakil bupati hanya 1 Kursi, begitu pula anggota parlemenet anggotanya terbatas,,
Karena walau dalam jabatan bupati atau DPRD pun, sudah barang tentu terjemahan dompu sebagai daerah kelahiran dengan perkembangan kekinian sangat jauh berbeda, begitu pula pemahaman tentang dompu tentu tidak cukup informasix via facebook, telpon2an, koran atau media lain,, tanpa menetap dan merasakan langsung kondisi yang ada..

Jikalau tidak dalam posisi itupun harusnya setiap orang2 dompu yang diluar sana, memikirkan perkembangan dan kemajuan tanah kelahiranya dalam bentuk yang lain.. Untuk bisa demikian tentunya, para perantau dan orang2 berhasil diluar sana, atau adik2 yang memiliki obsesi utk kemajuan daerahnya., Mari Pulanglah ke Dompu dan bangun daerah kita, tentu tanpa jaminan untuk jadi Bupati, Wakil Bupati atau DPRD, Bisakah...?

Batu Lata dan Think That, Unthinkable

Membuka lembaran catatan kaki seorang pemikir pembaharu islam Ali engginer, tertuang sebuah ungkapan menarik, “memikirkan yg tidak terpikir”, terlintas pertanyaan bagaimana caranya ya.. semakin dalam membaca dan mengurai ditemukan juga kata kunci yang berupa azimat dari sepenggal kata memikirkan sesuatu yang tidak terpikir oleh orang orang diluar sana.

Terinpirasi dari ungkapan tersebut, diskusi dan sharing gagasan pun terjadi, lalu lahirlah istilah “how to think that unthinkable…?” yang menurut hemat peserta diskusi maqomnya lebih tinggi, dari hanya sekedar memikirkan yg tidak terpikir menjadi sesuatu yang rumit untuk dipikir bahkan sama sekali tidak terbayang dalam pikiran sekian banyak yg belum terpikirkan.

Dua leveling cara berpikir tersebut, jikalau berkehendak maju dan berkembang, cukup layak untuk dipraktikan oleh masyrakat Dompu, bagaimana tidak budaya latah (batu lata), kerap menjadi idiom konstruk berpikir dan tindak masyrakat Dompu, terutama disisi social dan ekonomi, sebagai contoh misalnya, disisi ekonomi masyarakat Dompu selalu saja latah dengan berkembangnya sebuah usaha kecil tetangga atau kawan sebelah, begitu pula disisi social ketika trend baru berkembang selalu saja dikonsumsi secara mentah dan dan diadopsi.

Batu Lata (Meniru), adalah sebuah budaya yang dikonstruk dari ketidak mampuan berpikir yang tidak terpikirkan, kretifitas adalah produk dari berpikir yang tidak terpikirkan, batu lata sangat gampang diditemui diruang ruang ekonomi, social dan politik didaerah Dompu, tingkatan budaya batu lata juga terjadi di ruang ruang masyrakat, Negara atau swasta, imbas dari budaya batu lata tentu berdampak stagnannya perkembangan sumberdaya manusia maupun pembangunan secara umum di dana Dompu.

Sangat mudah ditemui ketika sebagian orang membuka bisnis warnet, maka menjamurlah warnet di dompu, seorang tetangga membuka usaha counter pulsa yang lain pun ikut ikutan dengan pola yang sama, disisi lain diruang social ketika sebuah komunitas menggalang gerakan protes yang lainya apingin tampil dengan gaya protes yang sama, diruang politik style style politik yang dilakukan masih sangat normative dan kaku, lawan adalah musuh, teman adalah mitra bak sang malaikat yg luput dari intrik dan tipu tipu.

Budaya Batu Lata saat ini dioraktekan secara serampangan oleh kalangan masyrakat menengah di Dompu, budaya ini pun mengkonstruk kemalasan untuk berkretifitas dan malas dalam mengolah ruang dan situasi, sehingga pola dan caranya pun “membosankan” bahkan cendrung stagnan, tentu akibat Batu Lata semuanya bisa terukur, ya ketika musim usaha warnet mulai lesu rame rame memikirkan usaha lain, begitu pula bisnis pulsa mengalami banyak kompotitor maka akan berpindah pada bisnis baru yang belum tentu strategis, begitu pula pola pola komunikasi social yg sudah usang banyak mengalami kecaman dan ketauan juntrungnya, maka mulai lha menuju tangga tangga taktis yang lebih operasional dan Vulgar.

Batu Lata disatu sisi memang memiliki dampak positif, yaitu kemauan untuk terus maju dan dinamis dalam menghadapi ruang ruang ekonomi, social dan politik, akan tetapi budaya ini juga banyak dampak negatifnya, katakana saja konstruk lebih dominan mendorong pada kemalasan untuk berkretifitas, merasa mapan dan berkecendrungan lebih suka meniru dengan pola dan gaya yang sama tanpa malu malu, dan yang lebih parah hasil tiruan tersebut dikutip sebagai produk sendiri.

Oleh karenanya, how to think dan unthinkable..? adalah sebuah tawaran bagi masyrakat menengah keatas membangun budaya berpikir dan berbuat secara kreatif dengan tanpa benyak meniru, akan tetapi mengelaborasi kondisi kondisi ekonomi, social, politik secara inovatif, tentu bukan hanya dengan ikut ikutan dan latah atau BATU LATA..!

"Sarato,i Kampo"

Rebutan mix dan megaphone untuk mendapatkan giliran orasi ketika demontrasi, dipertontokan secara terbuka oleh team demonstrasi mahasiswa Dompu diperempatan BI Mataram, mengucapakan kata tidak senonoh oleh kalangan DPRD Dompu diruang rapat paripurna, melayangkan bogem mentah kemuka lawan tanding oleh angora legislative diruang bupati, saling hujat diruang public dilakukan oleh kalangan elite, menikmati hidup hedonism atas hasil tipu tipu, serta berlagak jagoan ketika perang kampong, bahkan yang terbaru berharap melerai ribut ribut disaat emosi sebagian masyrakat memuncak,serta masih banyak lagi sikap dan perkataan yang mencirikan prilaku kekanak kanakan.

Prilaku prilaku tersebut sangat mudah ditemukan dikalangan masyrakat Dompu, baik itu yang berada di dana Dompu, mataram, jawa dan ibukota Jakarta, sebagian besar, disisi lain ketika prilaku kenak kanakan tersebut ditampilkan sebagai view, bisa dilakukan secara sadar atau tidak sadar, dapat ditemukan dipergaulan keseharian, tidak susah dijumpai diruang ruang dunia maya atas statement, bgitu pula kerap diceritakan oleh media media massa, bahkan terakhir pemda yang diduga melakukan pinjaman duit pada rakyatnya sendiri mencapai angka 6 Miliard. Dan anehnya prilaku tersebut oleh sebagian pelaku dan penganutnya, bahkan disimpan dalam klausal “membanggakan”.   

Melirik fenomena diatas, maka Satu lagi character yang melekat disebagian kecil kalangan dana Dompu, penikmat character ini tidak banyak, akan tetapi cukup komprehensif mengisi ruang ruang social politik dou dompu, dampak dari character tersebut cukup berimbas atas cara bersikap dan menyikapi sebuah persoalan, sehingga tak heran prilaku dan perkataanya layak disamakan dengan kenak kanakan dan kampungan atau yang kita sebut dengan “Sara toi kampo”.

Saratoi kampo, adalah carater yang melekat atas “arogansi” diri menilai orang lain, dan juga over confident atas kemampuan dirinya, maka penganut carater ini, cendrung merasa dirinya paling benar dan yang lain sedikit benarnya, maka dengan demikian “saratoi kampo” layak di sematkan pada mereka mereka yang merasa benar dan bangga atas kebenaran yang diciptakanya sendiri, karena para penganut character ini adalah menikmati kesenangan tersendiri dan mengabaikan kebersamaan, sehingga ketika menghadapi sesuatu diluar keinginanya, maka cendrung mengabaikan yang lainya,, maka kerap muncul keluhan dibibirnya,, Co,opra, dokaimpra, ciru (Biarlah…) dan banyak ungkapan ungkapan kekecewaan lain yang diungkapnya.

Prilaku lain dari carater saratoi kampo adalah kerap merasa menang sendiri, akibat dari menikmati kemapanan beripkir, jabatan dan posisi yang dihadapi dimasa lalu dan saat ini, dan ahirnya cendrung berkesimpulan secara feudal atau yang lain tidak ada apa apanya yang dia miliki benar sebenarnya, sebagai contoh prilaku ini yaitu, wacana langit yang tidk membumi atau sama persis orang yang memaksakan “imajinasinya” dengan fakta yang berkembang dilapangan, maka tak heran konklusi dan sikapnya kebanyakan kontras dengan realitas dan hanya sebagian kecil benar dengan kenyataan, dan yang meyedihkan prilaku menganggap diri benar, hebat, pintar dan mengabaikan yang lainya akan berakibat feodal, arogan bahkan sok pintar kerap diperankan oleh para penikmat “Saratoi Kampo”

Menengok dari cara bersikap, pikir dan tindak saratoi kampo tersebut, Nampak jelas bahwa carater ini sebenarnya berkontribusi pada rendahnya, terpeliharanya konflik, terbangunya kebodohan atau bahkan tersimpulkan keputusan yang salah, maka jikalau saja carater saratoi kampo, dianut oleh elite menengah keatas (walaupun benar adanya prilaku ini dianut oleh elite menengah Dou Dompu dimanapun berada, diposisi apapun mereka menjabat, dikelas apapun mereka dikategorikan), maka Dompu pasti tidak akan bsia bergeser mengalami kemajuan yang sigifikans, karena para penikmat character saratoi kampo masih mengisi ruang social, politik dan budaya Dou Dompu.

Mengingat fenomena diatas kerap dan sangat gampang dijumpai, disetiap kalangan Dompu, sekali lagi, bukan hanaya di Dompu, tapi juga dimanapun dou dompu, prilaku dan carater ini kadang melekat secara kuat pada sebagian kecil Dou Dompu, baik aktivis, pejabat, anggota dprd, tokoh masyrakat,actor politik, bupati dan wakil bahkan bupati atau mantan bupati sekalipun, bisa dan mungkin terjangkiti carater “Saratoi Kampo”, yang sebenarnya lebih layak disematkan kepada “Prilaku anak anak” dan “Kampungan”.. miris..!

Nah adakah diantara kita sebagai penikmat dana penganut “Saratoi Kampo”…?

Generasi "Roka"


Menggelitik fenomena maraknya generasi yang menjuang kepentinganya berlabel kesamaan hak, kebebasan dimuka umum serta demokratisasi, di Dompu generasi generasi yang terhimpun dalam persekutuan organisasi kepemudaan, paguyuban atau organisasi kemasyrakatan keagamaan bahkan sampai dengan organisasi kepartaian, bagaimana tidak generasi generasi ini selalu hadir dan muncul disaat ada momentum social, politik atau budaya dengan ciri dan kegiatanya masing masing.

Idiom generasi adalah idiom yang selalu dilabelkan sebagai sebuah titel bagi entitas pelanjut sebuah proses peradaban, didalamnya terdapat satu pilar utama sebagai penopang berlanjutnya sebuah peradaban, yaitu generasi, generasi juga menggambarkan masa depan sebuah komunitas atau bangsa, begitu pentingnya posisi generasi, banyak sekali istilah yang menggambarkan, bahwa kelangsungan sebuah bangsa berpulang pada keberadaan generasinya, kira kira sederhanya demikian.

Adalah pada salah satu idiom generasi tersebut terdapatlah satu generasi yang kerap langgeng dan “betah” dengan penyebutan dirinya sebagai generasi pelanjut bangsa atau daerah, akan tetapi keberadaanya sungguh menghawatirkan bagi keberadaan generasi itu sendiri, katakan saja generasi ini adalah generasi “Roka”, generasi ini sesungguhnya sudah tidak layak lagi hadir dan mengambil peran dalam ruang ruang generasi yang ada, akan tetapi dengan confidentnya generasi roka ini selalu tampil dengan segala atributnya, dan berharap tetap diakui.

Linier dan cendrung konvensional, begitulah ciri utama dari generasi yang diberi label dengan generasi “roka” atau dalam bahasa indonesianya yang berarti “berkarat”, generasi generasi ini cendrung membangun sikap mapan dalam berpikir alias tuntas melihat persoalan disekelilingnya dengan kacamata simplenya, maka ketika ada yang berpendangan beda dengannya selalu di posisikan sebagai musuh yang harus dipinggirkan, ciri ini lahir karena cara berpikir pragmatis dan jangka pendek, generasi roka sendiri juga sangat konservatif dengan pandangan pandanganya, opininya dalah kesimpulan yang harus terus menerus dipertahankan.

Dalam segala kesempatan generasi roka berharap bisa tampil maksimal, segala isyupun selalu menganggap diri kompeten untuk dibicarakan, segala momentumpun berharap bisa tampil dengan identitynya yang lekat, pada intinya generasi roka ini juga berharap adanya pengakuan atas eksistensinya sebagai pihak yang ikut berkontribusi atas tema yang sedang dibahas pada momentum, kesempatan atau isyu yang ada, pokoknya “saya juga tau donk” katanya.

Generasi roka ini juga, jikalau tidak memiliki modal ekonomi, maka dia akan mengambil peran sebagai watchdog sang pemilik modal secara ekonomis, begitu pula ketika dia mapan secara ekonomi maka akan membangun rezim dan yang dikelilingi dengan watchdog helder,dimana para penjaga ini biasanya tidak bisa membedakan siapa musuh dan siapa tamu, ketika dalam posisi ini, sebagian besar generasi roka ini cendrung mencari musuh sebagai kompotitornya, kedua dua posisi ini sama sama memiliki watak peminta dan hanya bisa menanti, sama sekali tidak memiliki inisiatif.

Anehnya generasi roka ini juga kerap menjadi referensi bagi banyak kalangan di Dompu, pada kenyataanya jelas generasi roka ini adalah pelaku pelaku “politik ekonomi pribadi dan kelompok” masih saja di akomodir oleh para elite, baik itu elite politik atau ekonomi, maka jikalau demikian maka generasi dan elitenya sama sama “roka” dan sarat dengan masalah, dan yang terpenting generasi roka ini, ada di Dompu dan masih mondar mandir dengan riang gembira dan ceria.

Keberadaan generasi roka sungguh sangat kontras dengan visi generasi yang menjuang kesamaan hak, yang terjadi generasi ini memakai kesamaan hak sebagai alat untuk merampas hak orang lain, begitu pula prilaku mereka sangat bertolak belakang dengan kebebasan dimuka umum yang telah dibajak sebagai alat untuk menyampaikan mimpi mimpi sesaat dan interestnya, disisi lain generasi roka sangat a-demokratis, dimana menggunakan instrument demokrasi melakukan negosiasi kesamaan hak ekonomi untuk memenuhi kepentingan politik ekonomi mereka…! Jiakalau demikian adanya, maka generasi roka sendiri akan berkontribusi terciptanya peradaban yang linier, mapan, mencari musuh, pragmatis dan yang menghwatirkan konspiratif dan akrab dengan character assassination, yang nota benenya itu bukan cirri generasi Dompu dan bukan bagian dari  Peradaban Dompu yang lekat dengan spirit Ma-Nggusu Waru.

Lalu kapan Generasi Roka ini sadar, bahwa dia sesungguhnya layak di daur ulang,,? sebelum para pengecer besi bekas membelinya eceran.. hehehehhe...!

Dompu Tidak Pantas di "Sub-Ordinat" Sejarah-nya

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membangun sentimen konflik atau ketidak puasan, akan tetapi lbih kepada "membangun"kan kembali "ngigau" panjang para pihak yang merasa superior dengan kesalahan tafsir dan fakta sejarahnya, disisi lain mendorong sentimen positifisme dan optimisme bagi masyrakat Dompu agar optimis dengan kebesaran sejarah dan peradabanya..

Dalam sebuah konfrensi daerah organisasi kemasyrakat tingkat propinsi nusa tenggara barat, terdapatlah dialog ‘sudah, Dompu itu kan anaknya orang bima, biarlah diwakilan saja perwakilanya di formatur’ begitu kira kira ungkapan yang terungkap diforum resmi tersebut, disisi lain ada ungkapan seorang dosen doctoral di universitas terkenal di kota mataram ‘Dompu itu kan bima juga toh..? kan satu rumpun dan nenek moyang” ungkapnya,, belum lagi lontaran lontaran singkat semisal “dompu itu kan cukup diwakili bima” ungkap salah seorang mahasiswa bima pada pertemuan jaringan mahasiswa bima-dompu se nusa tenggara Barat.

Ungkapan dan lontaran diatas sekilas terlihat remeh dan acuh, akakn tetapi sesungguhnya Kerap terdengar, terbaca bahkan terlihat Dompu kerap disamakan atau diasosiakan sebagai Bima (bukan dalam kerangka mencari perbedaan atau permusuhan ni ya..), karena memang Dompu dan Bima adalah daerah serumpun, tapi kadang dengan fakta tersebut, menempatkan Dompu kerap dirugikan atas “penyamaan” tersebut,  karena kerap dompu ditempatkan sebagai “adik” dari daerah Bima, dan ini salah kaparah serta a-historis.

Terenyuk hati ini, ketika mendapati posting banyak orang yang menyatakan Dompu adalah subordinat dari daerah tetangga yang nota benenya daerah Bima, bagaimana tidak posting yang menyampaikan pesan Dompu berasal dari daerah seberang tersebut, padahal bila dirunut dalam sejarah Dompu adalah sebuah daerah yang memiliki peradaban yang lebih dahulu, Dompu adalah sebuah daerah yang cukup disegani dalam sejarah kerajaan Nusantara dan Hindia Belanda, begitu pula Dompu adalah kaya dengan sumberdaya manusia maupun alamnya.

Beberapa catatan penting yang menunjukan Dompu Adalah Daerah yang cukup dikenal dan diakui oleh sumbu peradaban di dana Dompu dan Dompu Bukanlah daerah yang pantas di subordinat oleh satu daerah tertentu, karena:
  1. 1.   (Era Kerajaan) Pada abad XIII, tepatnya 1322, Kerajaan Dompu diagendakan menjadi salah satu daerah yang menjadi target ekspansi kerajaan Majapahit, untuk ditaklukan, karena panglima Nala yang diutus oleh gajah mada harus tunduk dan menyerah didaerah Dompu, (cek dikitab karta Negara gama)
  2. 2.   (Era Kesultanan) Dompu pada abad XV, tepatnya 1545, tercatat telah dilantik sebagai sebuah kesultanan pertama dipulau Sumbawa, dibanding dengan bima kesultanan pertama abad XVIII dipengaruhi kerajaan Goa, Dompu pun mendapat kesultanan pertama atas pengaruh negeri Ghujarat langsung melalui proses perniagaan oleh Syekh Nurdin yang kemudian berhasil meng Islamkan Raja ke IX Dompu menjadi Sultan pertama, dengan Gelar Sultan syamsuddin Mawa,a bata.
  3. 3.   (Era Hindia belanda), Abad XIX, tepatnya tahun 1937 kesultanan Dompu  harus dimarger dengan daerah kesultanan Bima, bertepatan dengan pengasingan (pembuangan) Sultan Sirajuddin, karena dalam catatan sejarah Sultan Sirajuddin tidak pernah mau tunduk terhadap kekuasaan Hindia Belanda, dan akhirnya selama 10 tahun Dompu harus tunduk pada lingkup kesultanan Bima.


Dari tiga fakta sejarah tersebut, menujukan bahwa Dompu adalah daerah yang memiliki peradaban lebih lama dan diakui di Nusantara, coba cek bagaimana tidak Dompu menjadi bagian dari kerajaan yang harus ditaklukan diwilayah timur oleh kerajaan Majapahit yang berkuasa di nusantara tersebut, pertanyaanya mengapa tidak kerajaan bima atau Sumbawa..? Begitu pula Kesultanan pertama di Pulau Sumbawa bahkan diwilayah Timur Nusantara adalah Kesultanan Dompu mengapa demikian, karena dalam catatan sejarah kesultanan Bima dan Sumbawa tercatat mulai disyahkan pada abad XVIII, lagi lagi menunjukan fakta bahwa Dompu adalah daerah yang pertama menjadi peradaban kesultanan dipulau Sumbawa.

Yang selanjutnya, begitu gigihnya kesulatanan Dompu dibawah Pimpinan sultan Sirajuddin melawan perlawan penjajah Hindia Belanda hingga harus rela “terusir” dinegerinya sendiri, argumentasinya sangatlah kuat, bahwa bagaimana mungkin hindia belanda yang nota benenya tamu di daerah kesultanan Dompu, mau mengatur ngatur serta darimana alasanya harus membayar upeti pada hindia belanda atas hasil bumi kesultanan saat itu, dan lalu akibatnya Dompu harus Dimarger dengan kesultanan Bima baik secara administrative maupun secara kewenangan.

Dari beberapa fakta sejarah tersebut, harusnya masyrakat Dompu tidak perlu pesimis dan berkecil hati, bahwa sesungguhnya masyrakat Dompu, adalah masyrakat yang memiliki peradaban yang lebih komprehensif maupun lebih tua umurnya, maka salah jikalau dikatakan bahwa Dou Dompu berasal dari Dou Bima(orang dompu berasal dari orang bima) , akan tetapi yang benar harusnya pernyataan “dou dompu lao bima satu rumpun, yaitu rumpun mbojo” (orang bima dan dompu satu rumpun yaitu rumpun mbojo), bukan malah diklaim Orang Dompu asalnya dari Orang Bima.

Intimidasi social budaya kerap terasa baik secara langsung maupun tidak, ketika Dompu selalu diasosiakan dengan Bima, begitu pula kerugian yang sangat terasa ketika Dompu selalu dikelaskan sejarah kedua daerah Bima, nah harusnya Dou Dompu mulai confident dengan fakta fakta diatas, agar tetap mengedepankan optimismenya bahwa Dompu “dulu-nya” adalah sebuah daerah besar, berperadaban maju dan memiliki kehormatan sejarah.

Akibat adanya definisi sejarah budaya yang salah, selanjutnya Dompu juga kerap di anak tirikan oleh paradigma pembangunan, yang lebih melihat keterwakilan suku dan ras, nah ruginya Dompu selalu juga diasosiakan dengan satu ras dengan Bima, padahal secara ekonomi politik lagi lagi ini sangat merugikan bagi Dou Dompu, harusnya subordinasi politik, intimidasi social budaya serta marginalisasi ekonomi politik ini harus membuat Dou Dompu kembali menyingsingkan baju untuk menggapai dan mengungkap “keperkesaan” sejarah peradabanya sebagai daerah yang dulunya Besar dan hebat dimata Majapahit, Perniagaan International maupun hindia Belanda,,,

Maka sudah barang tentu ada SESUATU di balik fakta fakta sejarah tersebut, dan tentu tidak sepele dan biasa biasa saja, kalau tidak demikian, lalu mengapa Dompu Menjadi pilihan Kerajaan Majapahit untuk ditaklukan, untuk apa para syekh dakwah dengan Perniagaan Gujarat jauh ke Dompu dan mengapa hindia belanda memaksakan dompu menjadi objek pelampiasan “kekalahanya”,, tentu ini harus dijawab oleh seluruh generasi Dompu, akan tetapi yang paling penting Kita tidak perlu merasa sebagai sub-ordinat po0litik, sejarah, budaya, ekonomi maupun politik dari daerah yang serumpun atau sepulau,, tapi Dompu harus bangkit dan mampu menunjukan posisi kehebatan berbasis fakta sejarah untuk kemajuan masa datang, Sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata,, karena sesungguhnya kita adalah orang Besar dan hebat…!

Popular Posts

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More